AKSI NYATA MODUL 1.3
AKSI NYATA MODUL 1.3
Pada masa pandemi, kemandirian murid sangat diperlukan untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh. Keefektifan sebuah pembelajaran sangat bergantung pada kemandirian murid. Mandiri adalah salah satu dimensi dari enam dimensi pembentuk murid dengan profil pelajar Pancasila. Seorang murid yang memiliki dimensi mandiri berarti murid tersebut memiliki suatu prakarsa atas pengembangan diri dan prestasinya dan didasari pada pengenalan kekuatan serta keterbatasan dirinya serta situasi yang dihadapinya, dan bertanggung jawab atas proses dan hasilnya. Murid yang mandiri mampu mengelola dirinya sendiri untuk mencapai tujuan pribadinya ataupun tujuan bersama.
Selain mandiri, dimensi yang harus dimiliki oleh murid di era digital ini adalah berakhlak mulia. Pembentukan perilaku baik yang menumbuhkan nilai moral murid akan mempengaruhi tingkah laku murid. Berakhlak mulia adalah sikap menghargai segala bentuk ciptaan Tuhan, baik itu alam tempat tinggal, manusia lain dan dirinya sendiri. Dengan menghargai hubungannya dengan Tuhan, dirinya sendiri, orang lain serta alam, maka seorang murid sudah dapat dikatakan memiliki akhlak mulia. Dalam ajaran agama Hindu hal ini hampir sama dengan falsafah Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari daripada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai.
Dengan dilatarbelakangi oleh hal tersebut maka saya selaku CGP merumuskan visi murid yang merupakan mimpi saya terkait bagaimana murid di masa depan. Visi murid yang saya rumuskan dilatarbelakangi oleh kemandirian dan akhlak mulia merupakan dimensi penting yang minimal harus dikembangkan pada murid. Maka visi murid “Mewujudkan Murid Mandiri dan Berakhlak Mulia” saya usahakan dalam mewujudkannya.
Cara mewujudkan visi murid tersebut adalah dengan menjalankan model manajemen perubahan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia. Langkah pertama yang saya lakukan adalah memahami apa itu model manajemen perubahan Inkuiri Apresiatif BAGJA. Setelah menyimak materi dan video pembelajaran pada LMS, berdiskusi dengan rekan CGP yang dibimbing oleh fasilitator, berdiskusi secara virtual terkait elaborasi pemahaman yang dibimbing oleh instruktur dan fasilitator. Pada akhirnya saya memiliki cukup pemahaman untuk menyusun tabel BAGJA.
Tabel 1. Tabel BAGJA
PRAKARSA
PERUBAHAN
Mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia
TAHAPAN
Pertanyaan
Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan
B-uat pertanyaan (Define)
Apa saja kompetensi yang harus dimiliki murid supaya dapat dikatakan mandiri dan berakhlak mulia?
Bagaimana cara mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Apa yang bisa guru lakukan agar dapat mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Mencari informasi pada buku atau jurnal pendidikan terkait cara menumbuhkan kemandirian dan ahlak mulia pada murid
A-mbil pelajaran (Discover)
Aktivitas pembelajaran seperti apa yang dapat mewujudkan siswa yang mandiri dan berakhlak mulia?
Apa saja kompetensi yang harus dimiliki guru supaya mampu membimbing siswa menjadi mandiri dan berakhlak mulia?
Kompetensi apa yang saya dan rekan guru miliki yang perlu dioptimalkan untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Mencari informasi terkait cara mewujudkan siswa yang mandiri dan berakhlak mulia pada buku dan jurnal pendidikan
G-ali mimpi (Dream)
Apa saja aktivitas pembelajaran baru yang saya dan rekan guru bayangkan dapat mewujudkan murid mandiri dan berahlak mulia?
Bagaimana kondisi sekolah jika murid mandiri dan berakhlak mulia sudah terwujud?
Apa saja hal-hal positif yang terjadi di sekolah jika murid mandiri dan berakhlak mulia sudah terwujud?
Membuat gambar sekolah dengan murid yang mandiri dan berakhlak mulia (misalnya membuat poster atau mind maping)
Menempelkan di ruang guru dan di ruang kelas, serta membagikan ke rekan guru dan kepala sekolah untuk mengingat dan memotivasi selama kami melakukan usaha untuk mewujudkannya.
J-abarkan rencana (Design)
Berapa lama target untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia.
Aktivitas pembelajaran apa yang dapat mendukung terwujudknya murid mandiri dan berakhlak mulia?
Bagaimana cara mengukur kemajuan sikap mandiri dan berakhlak mulia murid?
Bagaimana cara memberdayakan kekuatan-kekuatan yang ada di sekolah untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Bagaimana cara memotivasi rekan guru untuk tetap konsisten mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Apa perubahan sederhana pertama yang dapat dilakukan untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Menggali potensi awal murid dengan membagikan kuisioner yang bisa mengukur tingkat kemandirian dan ahlak mulia yang dimiliki murid.
Membuat target capaian
Membuat jurnal mingguan yang isinya capaian dan refleksi atas usaha mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia.
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemandirian dan ahlak mulia pada murid.
Menentukan strategi pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemandirian dan ahlak mulia pada murid
Menyusun pembiasaan-pembiasaan yang dapat menumbuhkembangkan kemandirian dan ahlak mulia pada murid
A-tur eksekusi (Deliver)
Siapa saja yang akan saya libatkan dalam mewujudkan visi ini?. Berperan sebagai apa saja?
Kapan perubahan sederhana pertama yang dapat dilakukan untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia akan dilakukan?
Siapa yang bisa memonitoring usaha untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Bagaimana pencatatan kemajuan usaha untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Siapa yang bisa diajak berdiskusi terkait refleksi pada usaha untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia?
Memetakan kekuatan yang ada di sekolah untuk diberdayakan mencapai visi.
Menyamakan persepsi terkait tujuan yang ingin dicapai bersama kepala sekolah dan rekan.
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemandirian dan ahlak mulia pada murid.
Melaksanakan strategi pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemandirian dan ahlak mulia pada murid
Melaksanakan pembiasaan-pembiasaan yang dapat menumbuhkembangkan kemandirian dan ahlak mulia pada murid.
Melaksanakan pengukuran kemandirian murid dengan instrumen penilaian (rubrik)
Melaksanakan pengukuran akhlak mulia murid dengan observasi
refleksi
Hari ini, Jumat 11 Juni 2021 setelah saya menyusun tabel BAGJA, saya mengajukan rencana ini kepada kepala sekolah untuk mendapatkan izin dari beliau. Rencana ini disambut baik oleh kepala sekolah. Karena mandiri dan berakhlak mulia harus ada pada murid. Apalagi terkait permasalahan di SD Negeri 3 Tengkudak yaitu rendahnya kemampuan membaca siswa pada kelas bawah (kelas1,2,3). Pada kondisi pandemi, pembelajaran tidak bisa terlaksana dengan tatap muka, maka kemandirian murid sangat dibutuhkan, khususnya kemandirian untuk belajar membaca. Hal ini disampaikan oleh kepala sekolah kepada saya, setelah beliau mendapat keluhan dari guru kelas bawah.
Gambar 1. Diskusi Bersama Kepala Sekolah
Berbekal hasil diskusi dengan kepala sekolah, selanjutnya saya melakukan diskusi dengan guru kelas bawah, pada hari tersebut kebetulan terdapat 1 guru kelas bawah yang hadir di sekolah. I Made Agus Sukawiryanto, S.Pd adalah guru kelas 3 SD Negeri 3 Tengkudak. Pak Made adalah nama sapaan beliau. Pak made sudah menjadi guru kelas 3 selama 4 tahun. Pak Made menceritakan kondisi kelas 3 di tahun ini, 2 murid dari total jumlah 4 murid kelas 3 kemampuan membacanya rendah. Hal ini sangat mengganggu dalam proses pembelajaran daring. Pak Made tidak bisa berbuat banyak untuk memberikan tambahan pelajaran membaca. Ketika saya melemparkan pemahaman terkait kemandirian dan akhlak mulia yang harus terwujud pada siswa. Pak Made menyambutnya dengan baik, dan berharap ada solusi yang mendorong kemandirian murid dalam belajar membaca dan membangun akhlak mulia murid.
Gambar 2. Diskusi Bersama Guru Kelas 3.
Kemudian saya melakukan diskusi virtual bersama bu Intan yang merupakan guru kelas 1 di SD Negeri 3 Tengkudak. Beliau memiliki permasalahan yang sama yaitu rendahnya kemampuan membaca siswa kelas 2. Dari 2 orang murid di kelasnya, 1 murid tidak bisa membaca. Bu intan menjelaskan bahwa sulit sekali membangun kemandirian murid dalam beajar memebaca pada pembelajaran daring karena keterbatasan jarak.
Gambar 3. Diskusi Virtual Bersama Guru Kelas 2.
Selanjutnya saya melaksanakan diskusi via chat dengan guru kelas 1. Ibu Ni Made Mudiasih nama beliau, sering disapa bu Made. Bu made pada hari ini berhalangan hadir ke sekolahkarena ada upacara adat dirumahnya. Jadi saya meminta izin kepada beliau untuk meluangkan waktunya berdiskusi dengan saya terkait kemampuan membaca siswa di kelas 1.
Gambar 4. Rekam Layar Chat Diskusi Bersama Guru Kelas 1.
Berdasarkan diskusi singkat melalui chat dengan bu Made, terdapat 4 murid dari total 6 murid yang belum bisa membaca, bahkan 2 dari 4 murid tersebut belum hafal abjad. Bu Made menyambut baik aksi nyata yang akan saya terapkan untuk mewujudkan murid mandiri dan berakhlak mulia.
Berdasarkan diskusi tersebut, saya menyusun sebuah asesmen non kognitif pada google form. Asesmen non kognitif ini akan mengukur kondisi psikis dan sosial emosional siswa. Form asesmen non kognitif dapat di akses dengan klik tautan berikut https://forms.gle/Yt5N1kaD4ovykyGSA . Link asesmen non kognitif ini saya bagikan di grup sekolah, supaya guru kelas bawah dapat membagikan kepada muridnya.
Gambar 5. Rekam Layar Chat Whatsapp Grup SD Negeri 3 Tengkudak (Membagikan Asesmen Non Kognitif Kepada Guru Kelas)
Untuk pelaporan progres aksi nyata minggu ini, aksi nyata berada pada tahapan menunggu umpan balik asesmen non kognitif dari siswa. Kemudian dari hasil asesmen non kognitif tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan aksi nyata.
Komentar
Posting Komentar